Potret empat mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta), yang berhasil menggagas Program Kelas Emosi: Kessos Edukasi Kelola Emosi dalam pelaksanaan Program Magang Industri berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta Selatan. Foto: Laras Weningtyas
JAKARTA, IISIP – Empat mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta), berhasil menggagas Program Kelas Emosi: Kessos Edukasi Kelola Emosi dalam pelaksanaan Program Magang Industri berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta Selatan. Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi ilmu kesejahteraan sosial yang diterapkan secara langsung kepada peserta didik di Sekolah tersebut.
Baca Juga:
“Program Magang Industri IISIP Jakarta Menjadi Wadah Peluang Karier bagi Mahasiswa Kessos” https://iisip.ac.id/index.php/2026/03/07/program-magang-industri-iisip-jakarta-menjadi-wadah-peluang-karier-bagi-mahasiswa-kessos/
Program tersebut diinisiasi oleh Hayfa Rinjani, Laras Weningtyas, Tazkia Al Ghifari, dan Dyah Ayu Larasati. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berupaya menghadirkan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi siswa untuk mengenali, memahami, serta mengelola emosi secara sehat sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Kelas Emosi juga dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosional peserta didik yang dinilai sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Para mahasiswa meyakini bahwa keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional akan membantu siswa dalam menghadapi tantangan sosial, maupun proses pembelajaran di lingkungan sekolah.
Baca Juga:
“Respons Positif Mitra Industri Perkuat Program Magang Prodi Kessos IISIP Jakarta” https://iisip.ac.id/index.php/2026/03/07/respons-positif-mitra-industri-perkuat-program-magang-prodi-kessos-iisip-jakarta/
Berdasarkan pelaksanaannya, program ini menggunakan sejumlah indikator untuk mengukur perkembangan peserta didik. Indikator tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni tingkat emosional tinggi, sedang, dan rendah, sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Melalui pendekatan edukatif dan interaktif, mahasiswa memberikan materi serta aktivitas yang mendorong siswa untuk lebih memahami kondisi emosinya sendiri. Kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun kebiasaan positif dalam mengelola emosi sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih sehat dan suportif.
Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial IISIP Jakarta Nyala Candrika Tifani, S.Sos., M.Kesos., menilai Program Kelas Emosi menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan magang yang baru sekaligus menerapkan kompetensi yang telah dipelajari selama perkuliahan. Menurutnya, proses identifikasi masalah hingga penyusunan program merupakan bagian penting dari praktik pekerjaan sosial yang berhasil diwujudkan melalui kegiatan tersebut.
“Kelas emosi bagi saya adalah pembuktian bahwa mahasiswa Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial mampu beradaptasi dengan bidang magang baru, mahasiswa mampu untuk mengidentifikasi masalah, kemudian menyusun alternatif program, merancang sumber daya yang diperlukan, sehingga melahirkan program kelas emosi,” ungkap Nyala.
Nyala juga menjelaskan, melalui program tersebut para siswa diajak untuk mengenali diri sendiri, mengendalikan emosi negatif, menumbuhkan empati, serta membangun kemampuan berkomunikasi secara asertif. Pendekatan kesejahteraan sosial yang digunakan juga diharapkan mampu memperbaiki hubungan sosial antar siswa sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih kondusif.
Sementara Wali Asuh Siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta Selatan Suryadi memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program tersebut, karena dinilai memiliki manfaat bagi perkembangan karakter peserta didik. Menurutnya, program ini menjadi salah satu inovasi yang relevan untuk diterapkan di lingkungan Sekolah Rakyat.
“Kalau menurut saya kelas emosi ini bagus ya, saya sangat mengapresiasikan program ini. Akan tetapi hanya saja untuk pelaksanaannya dapat dikelompokkan agar lebih efisien lagi,” ujar Suryadi.
Ia juga berharap program yang telah dijalankan mahasiswa IISIP Jakarta tidak berhenti pada masa magang saja. Menurutnya, Kelas Emosi memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai program berkelanjutan di lingkungan asrama Sekolah Rakyat.
“Jika program ini nantinya bisa dilakukan untuk kedepannya, saya berharap pihak asrama Sekolah Rakyat bisa dibuatkan sebagai program khusus,” pungkasnya. (Muhamad Farhan)








