
Suasana mahasiswa IISIP Jakarta melaksanakan kegiatan PKM di SMK Wisata Harapan Massa Depok, Rabu (10/6/2026). Foto: IISIP Jakarta
DEPOK, IISIP – Tiga mahasiswa bersama dua dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta), melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMK Wisata Harapan Massa Depok, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut dilakukan guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keberanian remaja dalam menghadapi kasus pelecehan seksual, khususnya yang terjadi di ruang publik dan transportasi umum.
Baca Juga:
“Mahasiswa IISIP Jakarta Gelar PKM di SMA Putra Bangsa Depok, Bahas Hoaks Video AI” https://iisip.ac.id/index.php/2025/12/20/mahasiswa-iisip-jakarta-gelar-pkm-di-sma-putra-bangsa-depok-bahas-hoaks-video-ai/
Perwakilan pelaksana PKM yang merupakan mahasiswa Konsentrasi Ilmu Manajemen Komunikasi IISIP Jakarta Rhenata Indriyanti, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas mata kuliah Pemasaran Sosial yang mengharuskan mahasiswa melakukan intervensi sosial kepada kelompok sasaran tertentu.
“Untuk kegiatan PKM ini adalah tugas mata kuliah pemasaran sosial, dengan target sasaran kelompok kami adalah siswa SMK usia 15-18 tahun,” ujar Rhenata.
Baca Juga:
“Mahasiswa IISIP Jakarta Gelar PKM di SDN 11 Lenteng Agung, Edukasi Tentang CTPS” https://iisip.ac.id/index.php/2025/12/13/mahasiswa-iisip-jakarta-gelar-pkm-di-sdn-11-lenteng-agung-edukasi-tentang-ctps/
Menurutnya, pemilihan tema pelecehan seksual didasarkan pada kondisi remaja yang cukup aktif beraktivitas di ruang publik dan menggunakan transportasi umum. Namun, masih banyak pelajar yang belum memahami cara bertindak maupun prosedur pelaporan ketika menjadi korban atau saksi pelecehan seksual.
“Yang perlu diketahui dari target sasaran kami, banyak sekali anak SMA yang sering ke public space atau menggunakan transportasi umum. Anak SMA ini terkadang masih kurang kesadaran terhadap dirinya sendiri, belum banyak mengetahui bagaimana cara bertindak dan seperti apa saja prosedur pelaporannya ketika terjadi pelecehan seksual, lalu di zaman sekarang pelecehan seksual sudah merajalela hingga lawan jenis pun menjadi target pelecehan seksual. Maka dari itu kelompok kami membekali bagaimana caranya bertindak, bersuara dan melapor ketika menjadi korban atau saksi pelecehan seksual di ruang publik dan transportasi umum,” jelasnya.
Sebagai pelaksana PKM, Rhenata menilai sosialisasi mengenai pelecehan seksual sangat penting diberikan kepada pelajar. Edukasi tersebut dapat membantu membentuk pemahaman baru mengenai pentingnya keberanian untuk bertindak, berbicara, dan melapor apabila menemukan atau mengalami tindakan pelecehan seksual.
“Menurut saya, isu ini sangat penting untuk disosialisasikan. karena isu ini sudah menjadi penting untuk dipahami, dipelajari dan diaplikasikan kepada diri sendiri dan orang sekitar. Dengan mensosialisasikan kepada pelajar, hal ini bisa menjadi awal mula mereka untuk mengubah persepsi baru mengenai bagaimana cara bertindak, bersuara dan melapor,” katanya.
Rhenata pun berharap bahwa kegiatan PKM ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi para siswa. Selain meningkatkan kesadaran terhadap isu pelecehan seksual, program tersebut juga dapat mampu menumbuhkan kepedulian sosial dan keberanian untuk membantu sesama di lingkungan sekolah maupun ruang publik.
“Harapan kami di kegiatan selanjutnya, PKM mengenai pelecehan seksual ini terus berlanjut atau bahkan dengan sekolah yang sama dengan tema yang berbeda,” tutup Rhenata. (Muhamad Farhan)







