
Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional IISIP Jakarta Netik Indarwati, S.S, M.Si. berikan sambutan pada saat pembukaan kegiatan seminar FISIP IISIP Jakarta di Ruang AVA-B, Jumat (5/6/2026). Foto: Muhamad Farhan
JAKARTA, IISIP – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) menggelar seminar bertajuk “Upaya Pencegahan Migrasi Non Prosedural dan Perdagangan Orang di Asia Tenggara” pada Jumat, (5/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang AVA-B IISIP Jakarta ini, diikuti oleh mahasiswa dan sivitas akademika sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman mengenai isu migrasi dan perdagangan orang yang masih menjadi tantangan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
“Jangan Terlewat! FISIP IISIP Jakarta akan Gelar Seminar di Ruang AVA, Ini Temanya” https://iisip.ac.id/index.php/2026/06/04/jangan-terlewat-fisip-iisip-jakarta-akan-gelar-seminar-di-ruang-ava-ini-temanya/
Seminar ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan yang lebih luas kepada peserta mengenai berbagai persoalan yang dihadapi pekerja migran, khususnya yang berkaitan dengan migrasi non prosedural dan tindak pidana perdagangan orang. Melalui kegiatan akademik tersebut, para peserta diharapkan dapat memahami strategi pencegahan serta pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan yang berpotensi menjadi korban eksploitasi.
Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional IISIP Jakarta Netik Indarwati, S.S., M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa seminar ini merupakan salah satu program kerja rutin yang diselenggarakan oleh fakultas. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki peranan dalam menghubungkan teori yang dipelajari mahasiswa di ruang kuliah dengan realitas yang terjadi di masyarakat.
“Kegiatan seminar ini merupakan salah satu program kerja di setiap fakultas IISIP Jakarta, tujuannya untuk mengantarkan mahasiswa melihat keterkaitan antara konsep dan teori yang ada di bangku kuliah dengan apa yang terjadi di lapangan,” jelas Netik saat sambutannya di depan peserta seminar, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga:
“Program Studi Ilmu Hubungan Internasional IISIP Jakarta: Siapkan Generasi Muda Bersaing di Kancah Internasional” https://iisip.ac.id/index.php/2026/05/28/program-studi-ilmu-hubungan-internasional-iisip-jakarta-siapkan-generasi-muda-bersaing-di-kancah-internasional/
Netik menambahkan bahwa seminar juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari para praktisi maupun akademisi yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidangnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat memperkaya pemahaman mereka terhadap berbagai isu yang berkembang di tingkat nasional maupun internasional.
“Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mahasiswa yang ingin mendengarkan, membutuhkan pencerahan dari praktisi dan akademisi secara langsung,” lanjutnya.
Melalui kesempatan tersebut, Netik menyoroti bahwa tema seminar yang diangkat memiliki tingkat urgensi yang tinggi dan memerlukan perhatian bersama. Ia menjelaskan bahwa persoalan migrasi non prosedural dan perdagangan orang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan lapangan pekerjaan hingga maraknya penyalahgunaan teknologi digital untuk menawarkan pekerjaan palsu.
“Tema seminar siang hari ini juga cukup serius yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan dari kita semua. Kita tahu bahwa persoalan migrasi non prosedural dan perdagangan orang ini dipicu oleh faktor kesulitan di dalam negeri untuk memperoleh lapangan pekerjaan ya, kemudian perkembangan teknologi digital yang mengiklankan lowongan pekerjaan palsu dengan menjanjikan upah yang tinggi dan jabatan menarik, namun mereka menjadi diperdagangkan,” katanya.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai dapat meningkatkan risiko masyarakat menjadi korban penipuan berkedok lowongan kerja. Kondisi tersebut pada akhirnya membuka peluang terjadinya praktik perdagangan orang yang merugikan banyak pihak.
Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu berkontribusi dalam upaya pencegahan di lingkungan sekitar. Peran generasi muda dinilai sangat membantu dalam menyebarluaskan informasi yang benar mengenai bahaya migrasi non prosedural dan perdagangan orang.
“Untuk itu anak-anak ku semua (mahasiswa) dalam kesempatan kali ini kita dengarkan langsung penjelasan dari para praktisi dan akademisi, agar kalian bisa menjadi agen edukasi untuk upaya pencegahan kasus ini,” tutup sambutan Netik. (Muhamad Farhan)








