“Delegasi Rusia” Raih Predikat Terbaik di IISIP MUN 2026, Soroti Pentingnya Diplomasi dan Ketahanan Energi

Sejumlah peserta IISIP MUN 2026 melakukan foto bersama para dosen dan mentor, setelah kegiatan tersebut selesai, Rabu (13/5/2026). Foto: HIMAHI IISIP Jakarta

JAKARTA, IISIP – Himpunan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional (HIMAHI) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta menggelar kegiatan IISIP Model United Nations (MUN) 2026 di Ruang AVA-B IISIP Jakarta pada Rabu, (13/5/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu wadah pengembangan akademik sekaligus peningkatan keterampilan diplomasi bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI).

Baca Juga:

“HIMAHI IISIP Jakarta Gelar MUN 2026 Bahas Ketahanan Energi” https://share.google/3gn1nlDZSIc2NS6c1

IISIP MUN 2026 mengangkat tema “Ketahanan Energi” yang dinilai relevan dengan dinamika global saat ini. Melalui simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para peserta diajak memahami persoalan hubungan internasional secara lebih mendalam dan aplikatif melalui proses negosiasi, debat, hingga penyusunan resolusi.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian dalam kegiatan tersebut adalah delegasi negara Rusia Ariel Gilbert Noelando Nainggolan. Ia berhasil terpilih sebagai salah satu delegasi terbaik dalam IISIP MUN 2026 berkat kemampuan diplomasi dan strategi negosiasi yang ditunjukkannya selama sidang berlangsung.

“Jujur, saya pribadi tidak mengira akan menjadi delegasi terbaik. Selama saya mengikuti jalannya acara, fokus saya hanya mengutamakan kepentingan negara yang saya wakili yaitu Rusia dan berusaha menjadi pihak yang netral dengan mengutamakan solusi penghentian konflik yang paling memungkinkan,” ujarnya.

Ariel menjelaskan bahwa tantangan terbesar selama mengikuti simulasi IISIP MUN 2026 terletak pada proses riset data mengenai kepentingan negara-negara peserta. Menurutnya, setiap negara memiliki tingkat keterlibatan dan kepentingan berbeda, sehingga proses mencari solusi bersama membutuhkan negosiasi yang panjang dan kompleks.

Baca Juga:

“HIMAHI IISIP Jakarta Gelar IISIP MUN 2026, Begini Respon Mentornya” https://share.google/sPPMEm1lEe5yeItbJ

“Tantangan terbesar menurut saya adalah riset data mengenai kepentingan negara-negara lain dan yang saya wakili. Karena setiap delegasi pasti memiliki tingkat keterlibatan dan kepentingan yang berbeda sehingga mencari solusi yang menjadi titik tengah dari berbagai negara harus melewati proses negosiasi yang panjang,” katanya.

Selama sidang berlangsung, Ariel mengaku memanfaatkan sesi unmoderated caucus untuk membangun komunikasi dengan delegasi lain. Strategi tersebut dilakukan guna mencari peluang kerja sama yang sejalan dengan kepentingan negara yang diwakilinya.

“Proses negosiasi yang efektif selama saya mengikuti acara adalah saat sesi unmoderated caucus, berdasar data yang saya miliki, saya mencoba melakukan pendekatan ke setiap delegasi yang memiliki potensi paling besar dalam mencari solusi yang sejalan dengan kepentingan Rusia sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, momen paling menantang menurut Ariel terjadi ketika proses perumusan resolusi berlangsung. Ia menilai perbedaan pandangan antarnegara membuat forum terbagi menjadi dua kubu besar, sehingga dibutuhkan kemampuan persuasi yang kuat untuk mencapai kesepakatan.

“Momen perdebatan yang menantang menurut saya adalah saat merumuskan resolusi, karena negara-negara yang berpartisipasi terbagi menjadi dua kubu, saya harus berusaha untuk meyakinkan negara lain agar solusi yang saya tawarkan lebih ideal dan menguntungkan banyak pihak,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan public speaking dalam kegiatan MUN. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan umum dan menyampaikan argumen secara persuasif menjadi faktor utama dalam membangun dukungan dari delegasi lain.

“Dalam kegiatan MUN, kemampuan public speaking serta penggunaan kalimat yang persuasif sangat penting dan dibutuhkan. Hal ini yang membantu saya meyakinkan delegasi lain bahwa solusi yang saya tawarkan dapat menguntungkan pihak mereka dan sejalan dengan kepentingannya,” tuturnya.

Sebagai delegasi Rusia, Ariel membawa pandangan mengenai pentingnya penghentian konflik global untuk mengantisipasi krisis energi berkepanjangan. Ia juga menyoroti upaya Rusia dalam mempertahankan kerja sama energi internasional di tengah embargo yang diterimanya dari pasar Eropa.

“Pandangan yang delegasi Rusia bawa adalah mengutamakan penghentian konflik agar krisis energi berkepanjangan dapat diantisipasi dan meyakinkan negara lain bahwa Rusia tetap dapat menjadi mitra kerja sama di sektor energi. Selain itu, Rusia juga berusaha menarik pasar-pasar Asia agar memiliki sumber energi cadangan lewat perdagangan dengan Rusia yang sudah kehilangan pasar di Eropa akibat embargo yang diterimanya,” katanya.

Ariel menilai pendekatan diplomasi yang dilakukan Rusia dalam isu keamanan internasional menjadi salah satu hal menarik untuk dipelajari. Ia mencontohkan peluang Rusia dalam menengahi konflik di Selat Hormuz sebagai salah satu strategi diplomasi global yang menarik, meskipun sulit diterapkan secara nyata.

“Pendekatan yang menurut saya menarik jika diterapkan dalam dunia nyata adalah jika Rusia mampu menengahi konflik di Selat Hormuz tanpa menomorsatukan kepentingan negaranya. Walaupun secara faktual hal ini hampir mustahil, tapi negara-negara besar terutama para pemegang hak veto selalu memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mengusulkan sebuah resolusi demi keamanan internasional,” ujarnya.

Melalui kegiatan IISIP MUN 2026, Ariel mengaku memperoleh banyak pelajaran mengenai dinamika politik internasional dan proses diplomasi antarnegara. Ia menyadari bahwa kepentingan aliansi politik sering kali lebih dominan dibandingkan idealisme keamanan internasional.

“Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah walaupun solusi dan pendekatan yang kita lakukan sudah sesuai dengan kepentingan keamanan internasional serta yang paling relevan, banyak negara yang tetap memilih untuk berpihak kepada sekutunya walaupun itu berarti harus mengorbankan idealisme mereka terhadap keamanan internasional,” ucapnya.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kegiatan MUN agar mampu mendalami peran delegasi negara yang diwakili. Menurutnya, totalitas dalam memahami kepentingan negara menjadi kunci utama dalam simulasi diplomasi internasional.

“Pesan yang dapat saya sampaikan adalah totalitas dan meresapi peran sebagai perwakilan delegasi suatu negara harus diutamakan. Kepentingan negara yang diwakili harus dibela dan diusahakan dengan segala cara yang memungkinkan,” katanya.

Ariel juga berharap penyelenggaraan IISIP MUN pada tahun berikutnya dapat berlangsung lebih maksimal. Ia menilai peningkatan fasilitas dan kesiapan panitia maupun peserta akan mendorong kualitas diskusi yang lebih kreatif dan inovatif. (Muhamad Farhan)