
Porter Farid Farhan Rasyid, ketika memberikan pengalaman kepada peserta magang IISIP Jakarta dalam kegiatan pembekalan Program Magang Industri dan Praktik Kewirausahaan, yang dilakukan secara daring pada Kamis, (26/2/2026). Foto: Muhamad Farhan
JAKARTA, IISIP – Mahasiswa magang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) Farid Farhan Rasyid, membagikan pengalaman selama menjalani magang pertama dan kedua di Ruang Damai. Pengalaman tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembekalan Magang Industri dan Praktik Kewirausahaan bagi peserta magang semester Genap 2025/2026.
Baca Juga:
“69 Mahasiswa IISIP Jakarta Diberikan Pembekalan Magang Industri dan Kewirausahaan” https://share.google/CNIfO1Cf9zP9oha2W
Berdasarkan sesi tersebut, Farid menceritakan berbagai pengalaman serta tantangan yang dihadapinya selama menjalani proses magang. Ia juga memberikan motivasi kepada para peserta agar mampu memanfaatkan program magang sebagai ruang belajar sekaligus sarana pengembangan diri secara profesional.
“Ketika magang kebetulan saya diposisikan di salah satu program namanya Aksi Damai,” katanya.
Farid menjelaskan bahwa pada masa awal magang, ia langsung dihadapkan pada tanggung jawab individu yang cukup menantang. Pengalaman tersebut menjadikan awal pembentukan kepercayaan diri dan kompetensinya di lingkungan kerja profesional.
“Awal-awal ketika saya bergabung, saya mendapatkan sebuah proyek individu untuk melakukan wawancara bersama napiter, dan ini merupakan proyek pertama saya ketika magang yang sekaligus diarahkan oleh mentor saya,” jelas Farid.
Kemudian pada kesempatan magang kedua di instansi yang sama, Farid kembali mendapatkan pengalaman yang berbeda dari sebelumnya. Ia mengaku diberi tantangan untuk keluar dari zona nyaman dengan tugas dan lingkup kerja yang tidak sama seperti saat magang pertama.
“Kebetulan karena saya magang kedua di Ruang Damai juga, tapi untuk jobdesk kali ini saya dicoba untuk keluar dari zona nyaman. Saya bergabung dalam satu proyek Literasi Damai, yang kebetulan ini jauh berbeda tugasnya dari magang sebelumnya. Dalam Literasi Damai kita mencoba untuk membuat sebuah konten media sosial, workshop, dan berbagai kegiatan diskusi,” ucapnya.
Melalui keterlibatan dalam program Literasi Damai, Farid belajar mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi tim, serta kreativitas dalam produksi konten dan penyelenggaraan kegiatan. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bekal yang berguna dalam meningkatkan kapasitas diri, baik secara akademik maupun profesional.
“Itulah keseruan ketika saya magang dan menjadi hal yang bernilai untuk saya,” tutur Farid. (Muhamad Farhan)








