
Potret pelaksanaan ujian sidang skripsi Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial IISIP Jakarta, pada Senin (2/2/2026). Foto: Muhamad Farhan
JAKARTA, IISIP – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta melaksanakan sidang skripsi semester gasal 2025/2026, salah satunya Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, pada Senin (2/2/2026). Pelaksanaan sidang berlangsung tertib dan lancar dengan mengedepankan standar akademik serta objektivitas penilaian.
Baca Juga:
“Mahasiswa IISIP Jakarta Akan Jalani Sidang Skripsi, Tesis, dan TKA” https://share.google/QjYR4A6lIweL4wZQi
Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kessos) IISIP Jakarta Nyala Candrika Tifani, S.Sos., M.Kesos., menjelaskan bahwa seluruh rangkaian sidang skripsi telah dipersiapkan secara matang sejak awal hari. Ujian sidang skripsi ini, dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan alur pengujian yang sistematis dan komprehensif.
“Alhamdulillah, pelaksanaan ujian sidang untuk Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial dijadwalkan hari ini, Senin, 02 Februari 2026. Pagi tadi, pukul 08.00 WIB, Pak Rektor dan Ibu Purek 1 memimpin pelaksanaan briefing bagi kami para penguji dan pelaksana teknis terkait hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan sidang skripsi,” jelasnya.
“Ujian sidang skripsi dimulai pukul 09.00 WIB, dan pelaksanaan hari ini berjalan lancar. Pertanyaan bagi peserta sidang dimulai dari dosen pembimbing skripsi, kemudian dilanjutkan oleh penguji lainnya. Setiap peserta diuji selama kurang lebih 60 hingga 90 menit dengan pertanyaan yang bersifat komprehensif untuk menguji skripsi secara menyeluruh,” tambah Nyala.
Nyala menilai topik skripsi mahasiswa Kessos IISIP Jakarta, memiliki relevansi tinggi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat saat ini. Menurut Nyala, peran dosen pembimbing juga menjadi faktor utama dalam membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi secara tepat waktu.
“Setiap semester mahasiswa selalu membawa pembaharuan dalam topik penelitian skripsi. Seperti hari ini, salah satu mahasiswa membahas tentang satuan tugas pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di perguruan tinggi. Salah satu saran yang dihasilkan adalah pentingnya kolaborasi antar kampus dalam upaya mencegah kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kurikulum saat ini, memungkinkan mahasiswa menyelesaikan studi sarjana dalam waktu tujuh semester. Sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan lebih singkat.
Sementara salah satu peserta sidang skripsi Rayya Ramadhan, yang berhasil menyelesaikan masa studinya dengan kurun waktu 3,5 tahun, mengungkapkan perasaannya usai mengikuti sidang. Menurutnya, proses yang dilakukan berjalan dengan maksimal.
“Alhamdulillah, perasaan saya saat ini campur aduk, antara senang, sedih, dan terharu. Karena hingga saat ini saya bisa menyelesaikan studi dengan cepat,” ujar Raya
Raya juga menjelaskan bahwa skripsi yang ia buat membahas isu kekerasan di perguruan tinggi, yang berangkat dari pengalamannya ketika masih aktif sebagai mahasiswa.
“Kebetulan saya merupakan anggota Satgas PPK-PT di IISIP Jakarta dan pernah menjalani magang industri di ECPAT Indonesia. Oleh karena itu, skripsi saya membahas permasalahan tersebut di Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Lenteng Agung, yaitu IISIP Jakarta dan Universitas Pancasila,” jelasnya.
Ia juga berharap hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa.
“Saya ingin memberikan kesejahteraan bagi mahasiswa, agar mereka bisa terdampak dari hasil penelitian saya. Bahwa di kampus ada satuan tugas yang berperan dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan, sehingga mahasiswa bisa merasa lebih aman dan sejahtera,” pungkasnya.








