
Potret Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial IISIP Jakarta Nyala Candrika Tifani, S.Sos, M.Kesos, saat kegiatan Kuliah Minggu Pertama (KMP) di IISIP Jakarta. Foto: Muhamad Farhan
JAKARTA, IISIP – Program Magang Industri dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Prodi Kessos) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta), dinilai mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga memperkuat keterampilan profesional mahasiswa sebelum lulus dari Kampus Tercinta.
Baca Juga:
“Mahasiswa IISIP Jakarta Perkuat Kompetensi Sosial melalui Magang di ECPAT Indonesia” https://share.google/4QNY73gsw50dGd4CY
Ketua Prodi Kessos IISIP Jakarta Nyala Candrika Tifani, S.Sos., M.Kessos., menjelaskan bahwa kurikulum MBKM yang diterapkan di IISIP Jakarta memberikan porsi pembelajaran yang seimbang antara teori dan praktik. Karena sejak diterapkannya kurikulum MBKM, IISIP Jakarta telah mengimplementasikan sebanyak 144 SKS untuk mahasiswa, angka tersebut dirincikan mulai dari 100 SKS mata kuliah di kelas, 40 SKS magang industri, dan 4 SKS skripsi.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa untuk lebih siap memasuki dunia usaha, dunia industri, maupun dunia kerja setelah menyelesaikan masa studi di Kampus Tercinta. Melalui program magang, mahasiswa mendapatkan pengalaman secara langsung yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.
“Saya melihat kebijakan ini sebagai peluang yang baik untuk menjembatani kebutuhan lulusan prodi ilmu kesejahteraan sosial untuk masuk dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja secara ‘smooth’ karena mereka sudah dibekali dengan nilai, keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bekerja secara profesional,” katanya.
Kemudian, Nyala menilai bahwa program magang industri juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan soft skill mahasiswa. Selain itu, keberadaan mahasiswa magang juga memberikan kontribusi bagi lembaga atau mitra industri tempat mereka belajar.
“Pada implementasinya, program magang industri memberikan pengaruh yang positif bagi mahasiswa kami terutama untuk soft skill ya, dan juga pengaruh yang baik juga untuk industri atau mitra magang kami karena mahasiswa juga memberikan kontribusi untuk mitra magang,” jelasnya.
Ia berharap program magang yang dijalankan bersama berbagai mitra industri dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri dinilai penting untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. (Muhamad Farhan)







