Magang di SBMI, Mahasiswa HI IISIP Jakarta Terlibat Riset Migrasi Paksa Akibat Krisis Iklim

Potret kegiatan mahasiswa magang Program Studi HI IISIP Jakarta di SBMI Theresia Maria Carmel Gai, mengikuti kegiatan pemaparan hasil penelitian di 6 Desa Pesisir Pemalang kepada Bupati Pemalang. Foto: Theresia Maria Carmel Gai

JAKARTA, IISIP – Program magang industri berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi salah satu skema bagi mahasiswa, untuk mengasah kompetensi akademik sekaligus praktik lapangan. Hal tersebut turut dirasakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) Theresia Maria Carmel Gai, yang mengikuti program magang di Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Baca Juga:

“Program Studi Ilmu Hubungan Internasional IISIP Jakarta Gandeng 7 Instansi Untuk Terapkan Program Magang Industri” https://share.google/3Qgevk73hfNDgR5lS

Carmel menjalani magang di SBMI sejak awal September 2025 hingga Januari 2026. Selama periode tersebut, ia tidak ditempatkan secara khusus dalam satu divisi, melainkan menjalankan tugas secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan lintas divisi di SBMI, mulai dari advokasi, riset, hingga kampanye isu buruh migran.

“Selama magang, tugasku bersifat fleksibel dan menjalankan tugas berdasarkan kebutuhan setiap divisi di SBMI. Pola kerja ini memberi kesempatan buat aku sebagai anak magang untuk memahami kerja lintas divisi,” ujar Carmel. 

Selama mengikuti program magang, Carmel pernah dipercaya memegang peran sebagai salah satu penulis dalam penyusunan Catatan Akhir Tahun (CATAHU) SBMI 2025. Peran tersebut selaras dengan minat akademiknya yang berfokus pada isu migrasi paksa akibat krisis iklim, khususnya yang berdampak pada buruh migran Indonesia.

Melalui keterlibatan ini, Carmel dapat berkontribusi dalam proses pengumpulan data, pengolahan analisis, hingga penulisan narasi yang menyoroti keterkaitan antara krisis iklim, migrasi paksa, dan kerentanan buruh migran. Selain itu, ia juga aktif menulis artikel untuk situs resmi SBMI agar isu buruh migran dapat dipahami oleh publik secara luas.

“Aku jadi bisa banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang bisa menarik perhatian dan dipahami oleh publik luas,” katanya.

Carmel menuturkan, keberlangsungan program ini membuat dirinya dapat memperoleh berbagai pengalaman dan keterampilan baru, mulai dari membangun jejaring dengan organisasi lokal maupun internasional, memperdalam pemahaman tentang isu buruh migran, hingga melihat langsung dampak kebijakan hukum terhadap kesejahteraan pekerja migran Indonesia di luar negeri. Pengalaman tersebut tentu memperluas perspektifnya mengenai peran organisasi masyarakat sipil dalam isu hubungan internasional.

Ia juga menilai bahwa materi perkuliahan di Program Studi HI IISIP Jakarta sangat relevan dan membantu dalam menjalankan tugas-tugasnya di SBMI. Menurutnya, teori yang dipelajari di kampus dapat diterapkan dalam praktik advokasi dan riset lapangan.

“Aku bisa melihat bagaimana SBMI sebagai aktor non-negara berinteraksi dengan negara, lembaga internasional, dan masyarakat sipil untuk mempengaruhi kebijakan yang pro kepada pekerja migran,” ungkap Carmel.

Baca Juga:

“Keren! Dari Hasil Laporan Magang Industri Mahasiswa Prodi HI IISIP Jakarta, Ternyata Pernah Tangani Kasus Nasional Hingga Internasional” https://share.google/usXa3hYlFi8lzWB4F

Carmel juga menegaskan bahwa pengalaman magangnya justru memperkuat pemahaman terhadap konsep-konsep HI. Ia menyadari bahwa HI tidak hanya berkutat pada relasi antarnegara, tetapi juga mencakup peran aktor non-negara dalam menangani persoalan kemanusiaan.

“Konsep Hubungan Internasional itu sangat luas dan bersentuhan langsung dengan persoalan sehari-hari. SBMI nyata mengisi celah ketika negara gagal melindungi warga negaranya yang bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Selain terlibat dalam penulisan CATAHU, Carmel juga dipercaya menjadi bagian dari tim penelitian lapangan SBMI terkait migrasi paksa akibat krisis iklim. Penelitian tersebut dilakukan di enam desa pesisir Pemalang, Jawa Tengah, sebagai kelanjutan riset SBMI sebelumnya di Sukabumi.

Penelitian ini mengungkap berbagai persoalan lingkungan, seperti banjir rob yang terjadi sejak 2018, hilangnya lahan pertanian dan tambak, kerusakan rumah warga, hingga kelangkaan ikan akibat pencemaran laut dan penggunaan alat tangkap destruktif. Kondisi tersebut mendorong masyarakat pesisir menjadikan migrasi sebagai satu-satunya strategi bertahan hidup.

Hasil penelitian lapangan, kemudian dituangkan secara komprehensif dalam Bab 3 CATAHU 2025 SBMI yang ditulis langsung oleh Carmel. Temuan riset tersebut juga disampaikan kepada Bupati Pemalang, Dinas Ketenagakerjaan, serta Dinas Pemberdayaan Desa Kabupaten Pemalang.

Carmel mengaku sangat bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk terlibat langsung dalam penelitian lapangan. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga karena dapat melihat secara langsung realitas sosial yang selama ini hanya dipelajari secara teoritis di kampus.

“Aku senang karena dapat kesempatan untuk menyuarakan isu-isu lokal dan menuliskannya dalam CATAHU 2025 SBMI,” tuturnya.

Carmel juga berpesan kepada mahasiswa yang akan mengikuti program magang industri agar tidak ragu terhadap kemampuan diri sendiri. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk belajar dari kesalahan dan terus mengembangkan potensi diri.

“Jangan pernah ragu dengan segala kemampuan diri kalian. Jadikan kesalahan sebagai pengalaman dan pijakan untuk terus belajar dan tumbuh,” pungkasnya. (Muhamad Farhan)