
Potret Khalisa Putri mahasiswa magang IISIP Jakarta melakukan foto bersama tim KBR dan Anymind. Foto: Khalisa Putri
JAKARTA, IISIP – Melihat pergeseran dunia jurnalistik saat ini, media tidak lagi hanya soal liputan lapangan dan menulis berita. Memasuki era media digital, jurnalisme menuntut kemampuan adaptasi, pemahaman data, serta strategi menjangkau audiens berbasis digital. Pengalaman tersebut dirasakan mahasiswa Konsentrasi Ilmu Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) Khalisa Putri yang menjalani magang industri selama dua semester berturut-turut di Kantor Berita Radio (KBR).
Baca Juga:
“Berkesempatan Magang di KBR, Mahasiswa IISIP Jakarta Dapat Sejuta Pengalaman” https://share.google/cOZKYtSc80Qk9cWWq
Khalisha memilih kembali melanjutkan magang di tempat yang sama untuk kedua kalinya di KBR. Keputusan tersebut justru membuka ruang pembelajaran yang lebih luas, karena dirinya tidak hanya mengulang pengalaman, tetapi juga menghadapi tantangan dan tanggung jawab yang semakin kompleks.
Berdasarkan pelaksanaan magang pertama, Khalisha diperkenalkan dengan ritme kerja media profesional. Ia terlibat dalam berbagai program podcast KBR seperti What’s Trending, News Beat, Diskusi Psikologi (Disko), dan Cek Fakta. Ia sekaligus dipercaya menulis artikel berita nasional serta memproduksi konten visual untuk media sosial.
“Pada magang pertama, saya memegang beberapa program sekaligus dan masih banyak belajar soal alur kerja media, terutama dalam produksi podcast,” tutur Khalisha.
Memasuki magang pada semester berikutnya, peran Khalisha sebagai mahasiswa magang semakin terfokus, namun lebih mendalam. Ia hanya menangani dua program, yaitu Disko dan Cek Fakta, tetapi justru di periode inilah ia terlibat dalam Project Sigma Indonesia.
Project Sigma Indonesia merupakan proyek kolaboratif yang diselenggarakan oleh Google dengan dukungan AnyMind. Proyek ini berfokus pada eksperimen pola konsumsi berita Generasi Z dengan melibatkan berbagai media nasional ternama di Indonesia. Keterlibatan Khalisha dalam proyek tersebut tidak terjadi secara instan. Bersama tim Disko, ia terlibat sejak tahap awal penyusunan proposal yang kemudian diseleksi bersama proposal dari media-media besar lainnya.
“Proposal tersebut diseleksi bersama proposal dari berbagai media besar, dan alhamdulillah proposal kami berhasil lolos seleksi,” ujarnya.
Sebagai bagian dari tim Disko, Khalisha memegang berbagai peran. Ia menyusun Term Of Reference (TOR) untuk setiap konten kreator melakukan riset dan pendekatan kepada kreator Gen Z, hingga mempelajari mekanisme kerja sama yang sebelumnya belum pernah diterapkan dalam program tersebut.

Potret Khalisa Putri mahasiswa magang IISIP Jakarta melakukan foto bersama tim KBR. Foto: Khalisa Putri
Tidak hanya itu, Khalisha juga terlibat dalam penyusunan KPI, pembuatan SPK, negosiasi honorarium, hingga proses administrasi kerja sama. Pengalaman ini memberinya pemahaman baru tentang manajemen media digital yang tidak hanya berfokus pada konten, tetapi juga aspek perencanaan dan evaluasi.
Selain aspek manajerial, Khalisha juga terlibat langsung dalam proses penyuntingan konten dengan gaya khas Gen Z. Ia mengerjakan penyuntingan audio, video, dan audiovisual, serta menulis caption dan deskripsi konten untuk berbagai platform digital KBR, mulai dari situs web, YouTube, Instagram, hingga TikTok.
Bagi Khalisha, Project Sigma Indonesia menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan realitas jurnalisme digital masa kini. Ia memahami bahwa generasi muda memiliki cara tersendiri dalam mengkonsumsi berita, sehingga media perlu menyesuaikan pendekatan tanpa menghilangkan nilai jurnalistik.
“Saya belajar bagaimana mengemas isu-isu serius agar tetap ringan, relevan, dan dekat dengan kehidupan Gen Z,” katanya.
Kolaborasi dengan platform teknologi dan media nasional juga memperkaya perspektif Khalisha. Ia melihat secara langsung bagaimana setiap media memiliki strategi yang berbeda dalam menjangkau audiens muda, sekaligus belajar bekerja dalam tim lintas institusi dengan standar profesional.
Pengalaman magang berkelanjutan ini menjadi bekal berharga bagi Khalisha dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Tidak hanya keterampilan teknis yang ia peroleh, tetapi juga sikap profesional, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja media.
Khalisha juga berpesan kepada mahasiswa IISIP Jakarta, agar tidak ragu memanfaatkan program magang sebagai ruang belajar yang sesungguhnya. Menurutnya, tantangan yang dihadapi selama magang justru menjadi proses dalam pembentukan kompetensi diri.
“Magang bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi bekal penting untuk memasuki dunia kerja. Jangan takut belajar, bertanya, dan mencoba hal baru,” pungkasnya.







