
Mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya sebagai bekal mahasiswa untuk menghadapi dinamika interaksi di dunia multikultural.
JAKARTA, IISIP – Komunikasi Lintas Budaya, salah satu mata kuliah yang berperan dalam membentuk kemampuan mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta), untuk memahami dinamika komunikasi antarbudaya. Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat keberagaman sebagai fondasi dalam membangun komunikasi yang efektif.
Baca Juga:
“Mahasiswa Mata Kuliah Jurnalistik Multimedia, Praktik di Lab Podcast IISIP Jakarta”
https://share.google/7ayqekImXe5MfWWjU
Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya IISIP Jakarta Dra. Sadakita Br. Karo, M.Si menjelaskan bahwa budaya memiliki fungsi strategis dalam proses komunikasi. Menurutnya, sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi harus memahami bagaimana budaya dapat dimanfaatkan untuk menunjang efektivitas penyampaian pesan.
“Jadi Komunikasi Lintas Budaya yang dikaji di dalamnya adalah bagaimana memanfaatkan budaya sebagai penunjang untuk membangun efektivitas komunikasi sehingga mahasiswa mampu memahami, menganalisa, dan menerapkan bagaimana perbedaan-perbedaan budaya dalam komunikasi itu bisa digunakan sebagai komunikasi yang efektif,” ujarnya.
Sadakita juga menuturkan, perkuliahan ini berlangsung 14 pertemuan, dua kali ujian yang disusun dengan mengseimbangkan antara teori dan praktik. Empat kali pertemuan awal, para mahasiswa diberikan materi dasar terkait ruang lingkup dan teori-teori dasar Komunikasi Lintas Budaya sebelum memasuki pembahasan yang lebih aplikatif. Kemudian sepuluh kali pertemuan ke depan, para mahasiswa ditugaskan secara berkelompok untuk melakukan diskusi dari topik pembahasan makalah yang telah disusun,” tuturnya.
Baca Juga:
“Mata Kuliah Komunikasi Kelompok IISIP Jakarta Tekankan Pentingnya Dinamika dan Kerja Sama Tim”
https://share.google/9PvURZMXaRp8ZhIoQ
Saat sesi diskusi, mahasiswa mempresentasikan makalah yang telah disiapkan untuk dianalisis bersama di dalam kelas. Proses ini mendorong mereka untuk memahami isu budaya sekaligus mencari solusi yang relevan terhadap persoalan yang muncul.
“Makalah mereka dipresentasikan dan dilanjutkan dengan diskusi sampai pada level mencari solusi yang bermanfaat dalam konteks isu-isu budaya yang diangkat oleh mahasiswa. Jadi, konteks ini dalam bentuk pemahaman Komunikasi Lintas Budaya yang memang sangat bermanfaat dalam menangani kasus-kasus akibat faktor budaya,” tambahnya.
Mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya juga memberikan kontribusi dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan dunia kerja di bidang Ilmu Komunikasi. Pemahaman lintas budaya menjadi nilai tambah bagi mahasiswa yang nantinya berkecimpung dalam profesi seperti jurnalis, Public Relation (PR), maupun komunikasi korporat.
“Dalam membangun karier di bidang Ilmu Komunikasi, Komunikasi Lintas Budaya itu bagian yang harus dimiliki ahli komunikasi untuk mencapai tujuan profesi yang mereka tekuni. Misalnya sebagai Jurnalis, maka di dalamnya mereka bisa melakukan wawancara dengan baik, public speaking, dan semua ini harus bisa memanfaatkan budaya tersebut yang terdapat pada profesinya,” kata Sadakita.
Sadakita menambahkan bahwa Komunikasi Lintas Budaya merupakan bagian strategis dalam membangun kompetensi komunikasi yang lebih luas dan harus dimiliki mahasiswa. Keberhasilan mereka dalam dunia profesional ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan wawasan budaya dengan keterampilan komunikasi lainnya.
“Komunikasi Lintas Budaya ini tidak dapat berdiri dengan sendirinya, melainkan bagian inegral untuk mensukseskan mereka dalam menjalani profesi, karena goals harus bisa menjadi ahli komunikasi, dan bidang Ilmu Komunikasi itu juga kan banyak cakupannya,” pungkasnya.
Tidak hanya itu, mahasiswa dilatih untuk mampu menjadi komunikator yang kreatif dan responsif terhadap isu keberagaman, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman yang kerap muncul akibat perbedaan budaya.








