Pantaskah Kejahatan Seksual Anak Dikategorikan Sebagai Kejahatan Luar Biasa

Seminar Program Studi Kesejahteraan Sosial

Kasus kekerasan seksual terhadap anak seperti kasus Angeline di Bali, Yuyun di Bengkulu, siswa JIS di Jakarta, hingga kasus prostitusi online yang melibatkan anak-anak di Bogor adalah segelintir contoh dari begitu banyak kasus serupa yang belum terungkap. Meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak semakin memprihatinkan terlebih karena sebagian besar pelaku kekerasan adalah orang terdekat korban.

Terkait dengan masalah ini, IISIP Jakarta menyelenggarakan seminar yang berlangsung pada bulan Juni 2016 dengan judul “Pantaskah Kejahatan Seksual Anak Dikategorikan Sebagai Kejahatan Luar Biasa”. Seminar yang diikuti oleh lebih dari 200 peserta ini menghadirkan pembicara yaitu Komisioner KPAI Erlinda M.Pd, Deputi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dr. Ir. Pri Budi Arta Nur, M.M., Koordinator Nasional ECPAT Indonesia Dr. Ahmad Sofian, S.H., M.A., dan Dosen Psikologi Sosial IISIP Jakarta Drs. Sugeng Astanto, M.Si.

Pada akhir seminar disimpulkan bahwa kejahatan seksual anak layak dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa karena korbannya adalah anak-anak yang seharusnya berhak untuk mendapatkan perlindungan dan berhak menggapai masa depan namun terhambat karena mengalami trauma fisik dan psikis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu perlu adanya dukungan terhadap lembaga seperti ECPAT Indonesia dalam hal menangani korban kekerasan seksual, baik secara hukum melalui advokasi, maupun secara sosial melalui pendampingan terhadap korban.