Pemberdayaan Masyarakat untuk Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS

HIV merupakan singkatan dari Human Immuno Deficiency Virus yaitu virus yang menyerang penurunan daya tahan tubuh, sedangkan AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan berbagai gejala penyakit sebagai akibat menurunnya sistem dan fungsi kekebalan tubuh oleh virus HIV.

Data menurut UNAIDS-WHO 2013, jumlah orang yang terinfeksi HIV diseluruh dunia sebanyak 38,8 juta orang. Di Indonesia sendiri sampai dengan Maret 2016, diperkirakan sejumlah 198.219 orang terinfeksi HIV, sedangkan estimasi pada tahun 2012 jumlah orang dengan HIV-AIDS diperkirakan sebanyak 519.718 orang. Jumlah ini perkiraan karena fenemona orang dengan HIV-AIDS (ODHA) digambarkan seperti fenomena gunung es, artinya jumlah penderita HIV-AIDS yang terdeteksi hanya sebagian kecil yang terdata oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan belum sadarnya masyarakat tentang bahaya virus HIV-AIDS, sehingga banyak diantara mereka yang mungkin memang belum mengetahui mengapa harus tes HIV-AIDS atau mungkin belum mengetahui bagaimana cara memperoleh layanan tes HIV-AIDS.

HIV-AIDS merupakan virus yang menakutkan bagi banyak orang, masalah yang timbul setelah seseorang positif HIV-AIDS salah satunya adalah harus menghadapi stigma negatif, dari keluarganya, lingkungan sekitarnya atau dari tempat bekerja. Untuk itu perlu membangun kesadaran masyarakat tentang bagaimana mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS dilingkungannya.

Berdasarkan isu tersebut maka Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, IISIP Jakarta mengundang narasumber Yayasan Pelita Ilmu (YPI) dalam kegiatan Seminar Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tema kegiatan seminar ini adalah “Pemberdayaan Masayarakat Untuk Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS” dengan dua orang pembicara, yaitu Bapak Husein Habsyi, S.K.M, M.Hcomm (Wakil Ketua Yayasan Pelita Ilmu) dan Ibu Dra. Sudarini, M.Si (Dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial).

YPI menjelaskan bagaimana perannya dalam pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan kementrian pemerintah, media massa, LSM, lembaga kesehatan masyarakat, mahasiswa, tenaga kesehatan, aktivis kesehatan dan sebagainya untuk mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS, melalui kegiatan penyuluhan untuk pencegahan penularan HIV-AIDS, konseling, testing, layanan kesehatan, dan dukungan untuk ODHA. Sasaran YPI ini adalah remaja sekolah, remaja luar sekolah, mahasiswa, ibu hamil, dan populasi resiko tinggi.

Meskipun berbahaya, virus HIV-AIDS dapat dicegah melalui hidup bersih dan sehat, bagi yang sudah terinfeksi virus HIV-AIDS saat ini sudah ada obat yang dapat menekan virus agar tidak berkembang yang harus diminum secara rutin, obat ini bermanfaat untuk menekan angka kematian akibat virus HIV-AIDS. Semakin banyak masyarakat yang paham bagaimana menghadapi ODHA maka diharapkan stigma masyarakat tentang ODHA dapat merubah menjadi dukungan untuk ODHA sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup ODHA.

Terbukti, dalam presentasi seminar disampaikan data, bahwa di dunia pada lima tahun terakhir ini kasus ODHA menurun dan jumlah kematian akibat HIV-AIDS juga menurun, hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat tentang HIV-AIDS sudah lebih baik.

Dari sudut pandang Ilmu Kesejahteraan Sosial, sebagai seorang pekerja sosial profesional, maka peran pekerja sosial terhadap klien individu dalam program pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS adalah dapat berperan sebagai advokat, pengajar, konselor, fasilitator, dan peran sebagai mediator. Sedangkan peran pekerja sosial profesional terhadap kelompok dalam program pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS adalah peranan fasilitatif, peranan edukasional, peranan representasi, dan peranan-peranan teknikal.